How low can you go?


Kamu tau, perubahan itu ga selalu nyaman. Seringkali bikin stres dan ngeselin. Keinginan untuk menjadi agen perubahan adalah keinginan nggilani yang entah bagaimana terus saja dipilih.

Padahal lebih enak misalnya menjadi agen status quo yang adem ayem mendukung penguasa. Ra usah mikir kepingin membuat ini itu dan keblangsak mikirin detail caranya. Cukup be a good follower and a good announcer. Arti gampangnya kurang lebih sering ngumumin ini ono supaya kliatan sibuk gini gitu.

Kliatan begini ini bisa cukup menjawab kekepoan orang-orang sekitar karena mereka assume you are doing you're part. Jadi ga akan banyak orang tanya detail, karena apa? Karena mereka berasumsi yang mereka lihat adalah yang sebenarnya.

Kecuali para penguasa ada tanya-tanya tahapan yang membutuhkan rincian detail atau langkah-langkah dari asumsi tadi, si agen status quo dalam posisi relatif aman.

Nah, agen perubahan ini memang statusnya asyem. Kecut. Terlihat seperti orang yang kepingin mbongkarin tatanan yang (diasumsi) rapih tadi, agen perubahan ini adalah pihak yang paling cepet ngumpulin musuh. Hahaha... iyee, kurang asyem apalagi tuh idupnye!

Dia akan jadi pihak pertama yang ditanya detail soal apa yang akan lo perbuat, sudah sampai mana perbuatan lo, kira-kira lo bakal ngacak-ngacak gw ga kedepannya. Mungkin itu pertanyaan paling sederhana yang akan muncul.

"Semenjak ada dia jadi kacau ni", ini kalimat berikutnya.
"Udah sih, ikutin aja yang udah ada", kalo ini kalimat pembelaan karena ogah kebawa-bawa atau ketauan 'recehannya'.

Trus gimana?

Butuh leader yang sangat-sangat jeli untuk melihat ke arah mana 'teriakan nggilani' yang diinginkan si agen perubahan. Kalo leader yang ada adalah orang bersumbu pendek yang gampang tersulut, ya jangan harap perubahan yang si agen mau bakal terjadi. Didengar aja udah syukur.

Jika leader jeli, dia akan paham, tidak banyak orang di dunia ini yang berela hati dan pikirannya dicerabut oleh pikiran 'begini untuk jadi lebih baik'.

Tidak banyak orang yang akan bersuka hati menjabarkan detail yang terdengar menyebalkan itu demi menyampaikan ide 'kita bisa lebih baik'.

Dan tidak banyak orang yang secara sadar membiarkan dirinya dan posisinya dalam keadaan bahaya untuk pemikiran 'saya mau kita lebih baik'.

Tapi sayangnya menemukan leader yang juga coach handal itu sulit. Pimpinan yang menganggap karyawannya seperti mesin pabrik banyak. Pimpinan yang menyetel hitungan jam untuk sebuah perubahan besar, lebih banyak. Pimpinan yang begini mau dengan hasil akhir yang ajib, tapi ga mau ngikutin prosesnya.
Yakali bos... belajar dong dari santan kelapa!

Sayang ya, semua lowongan kerja yang ada ga ada yang pernah nyantumin 'kriteria bos yang akan kamu dapatkan'... haha

Untuk kamu si agen perubahan, saya kasi saran. Buat timeline deh, detail yang kamu mau kayak gimana nantinya. Kayak buat daftar mimpi. Tulis detail cara meraihnya. Mana yang berhasil, mana yang gagal. Catatan ini bukan untuk kamu kasi ke bos aja, atau buat dibikin setatus di socmed supaya mereka baca, tapi catatan ini lebih kepada tantangan buat diri kamu sendiri. How low can you go?

Pilihan berikutnya either you stay and become samsak for everyone or you go and find someplace new yang cukup nerima kegilaan perubahan yang kamu mau. 

Comments

Popular posts from this blog

(Ma)sista ... you rock!

Retjeh, Cuy!

Waktu Bunda kecil emang dipanggilnya bukan bunda?