Posts

Showing posts from September, 2016

(Ma)sista ... you rock!

Image
Adalah kepulauan Solomon, Vanuatu, Nauru, Kepulauan Marshall, Tuvalu dan Tonga melalui Perdana Menterinya yang memberikan statement bahwa Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi di Papua dan Papua Barat. Tidak tanggung-tanggung, statement negara-negara ini disampaikan dihadapan sidang umum PBB di New York, Senin, 26 September 2016 lalu. Negara-negara ini memberikan pernyataan sedemikian tajam di depan majlis yang diakui dunia padahal jika dibandingkan dengan Indonesia, negara-negara tersebut jelas jauh ketinggalan jejak untuk perihal hak asasi. Statement ini bermuatan politik dan diutarakan untuk mengalihkan perhatian dari apa yang sedang terjadi di dalam keenam negara asia pasifik tersebut. Statement ini juga sungguh menyinggung Indonesia sebagai negara berdaulat. Mereka hampir dipastikan tidak memahami apa yang terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia berkaitan dengan Papua. Demikian kurang lebih yang disampaikan oleh Nara Masista Rakhmatia, 34 tahun, mewakili Indon...

Media Darling bikin Pening!

Image
Sekitar 5 tahunan lalu, ketika sebagian besar kita terlena oleh seorang yang begitu di agung-agungkan media, saya ingat saya sempat mengernyit (a.k.a nyureeng...) melihat si bapak satu itu. Semua media mengangkatnya. Bahkan buat saya, beliau ini come out of nowhere. Ujug-ujug  ada dan sebegitu besarnya. Alhamdulillahnya, saya yang ngeyel ini pernah main bareng media. Jadi belum sampai jatuh cinta, sudah terasa ada yang 'ngeplak' kepala. Saya cari tau soal beliau. Kiprahnya di posisi sebelumnya. Saya terus terang lumayan bingung (kata lumayan di situ kok jadi nyebelin yaa...). Bingungnya begini. Perubahan yang beliau lakukan di kota sebelumnya buat saya belum layak uji. Hahay.... subyektivitas penulis ya. Kurang lebih begini, "lah masa iya segitu kerennya?" - dibaca dengan dialek bekasi akan terasa lebih nyoss. Intinya sih, beliau ini tidak meluluhkan hati saya. Sampai akhirnya beliau menempati posisi yang digadang-gadang akan memberi perubahan besar, ha...

The Day 5 : Sendal Gw ilaaang...

Image
Alhamdulillah, rombongan kami dapat menyelesaikan melempar jumroh tepat waktu. Kami kembali ke Mekkah. Langsung ke Masjidil Haram untuk thowaf. Sekeliling ka'bah penuh. Kepala rombongan menyarankan kami thowaf di lantai paling atas. ... Ketika itu Masjidil Haram belum dibangun seperti sekarang. Pasar seng masih ada. Jadi ga ada alat berat disekitar kami. Di lantai atas sepi... Sesaat sebelum memulai thowaf, lepas sendal dulu... "Taro sini aja", kata Pak Ustad kepala rombongan sambil melepas sendalnya di pinggir dekat dinding batas. Semua menurut, cuma saya yang nyaut (-_- heeh saya nyebelin deh) "Taro sini aja? Gapapa ni? Ga akan ilang?", kata saya. Dijawab oleh beberapa teman, "nggaaa". Saya lepas sendal dengan pikiran, "kok maen dtinggal aja. Kalo ilang gimana". Selesai thowaf, kami kembali ke tempat meletakkan sendal tadi. Dan taraaaa.... Sendal saya ilang. Cuma sendal saya. Yang lain ada semua sendalnya. P...

The Day 4 : Masuk Raudhoh

Image
Semua kegiatan haji itu ada jadwalnya. Dan biasanya diatur berdasarkan ras. Bukan rasis yaa... Logika ajalah. Supaya seukuran... Masuk Raudhoh pun terjadwal. ... Tapi, saya ga well informed banget. Bada sholat shubuh, ketika lorong menuju Raudhoh untuk perempuan dibuka, saya ikut aja masuk. Barengan sama Uli, temen satu rombongan yang single juga. Begitu pintu dibuka, semua masuk dan setengah berlari, saya baru sadar. Saya ini liliput bangeeet. Bada shubuh itu adalah jadwal untuk Turki (ini rasnya apa ya? Ga apal uy). Ibu-ibu Turki ini tinggi badannya 2x tinggi saya, lebar badannya 3 atau 4 kali lebar saya (duluuu....). Tinggi 144cm dan berat yang ga sampe 45kg, boleh dong kalo saya ngaku liliput. Tapi kaget salah jadwal itu keburu ilang karena disambung kaget berikutnya. Liat kebawah, kaki saya ga napak, maaak.... Jadi... saya diapit 2 ibu Turki yang besar, trus keangkat. Kebawa lari bareng dia gituuu... Tau2 udah di depan. Iya, barisan paling depan. Gl...

The Day 3 : Melontar Jumroh

Image
Salah jadwal juga terjadi ketika melontar jumroh. Berangkat bersama2 teman satu rombongan menuju Mina itu demikian memacu semangat. Apalagi melewati barisan tenda putih beralas karpet tebal di dalamnya. Melewati bukit-bukit batu yang sambung -menyambung. Subhanallah... ga bisa merasakan yang lain, selain bersyukur dan seneeng... Bu Makbulah, salah satu kerabat yang berpengalaman, mengajak kami melontar di lantai bawah saja. Ga udah naik fly over. Tahun itu tempat melontar bel um dibangun seperti sekarang yang berlantai 5. Bagaimana kami tau kami salah jadwal??? Karena banyak banget bule dan pakle. Eh... bukan, maksudnya bule2 yang dari Amerika dan Eropa sono tuuh... Rasnya namanya apa ya.. (nyesel deh dulu ga belajar bener2 nama2 ras). Rasanya tuh... Hhaaahhh... (bayangin saya nganga dan mata menatap tak percaya). Gimana bisa saya yang liliput ini masuk ke lautan manusia itu. Ngga usah bayangin ngelontarnya. Jalannya ajah bingung. Bu Mak bilang,"Bismillah, insy...

Waktu Bunda kecil emang dipanggilnya bukan bunda?

Image
Pagi ini di teras, sebelum berangkat sekolah. Nuna : (sambil duduk) Bunda, waktu bunda segini ( tangannya memberi batas setinggi kepalanya), emang bunda udah dipanggil bunda ? Bunda : (nyengir.. haha..nahan ktawa sbnrnya) yaa nggaa, Nuun... Nuna : waktu bunda kecil emang dipanggilnya bukan bunda? Bunda : bukaan... Nuna : trus dipanggil apa? Bunda : dipanggil pake nama aku ajaa.. Nuna : apaa??? Bunda : paatiiyaah... gitu. Kayak kamu dipanggilnya pake nama kamu, Nuunaa.. gitu. Nuna : oooh... Bunda : aku dipanggil bunda karena punya anak, kakak-kamu-wafiy-. Nanti kalo kamu udah punya anak, kamu juga dipanggilnya gitu. Bisa bunda, ibu, mama ... Nuna : aku mau dipanggil mama. Bunda : boleeh.. Nuna : tapi aku mau dipanggil cikgu jugaa... Bunda : bisaa... emang Nuna mau jadi guru? Nuna : iiyaa... tapi pake jilbab, pake rok.. Bunda : iya iya... bisa kok. Insya Allah.. Nuna cenghar bener d. Kayaknya bahagiaa banget. #Nuna Semoga Allah mencurahkan rahmat da...

Allah itu di kepalanya pake peci warna apa?

Image
Akhirnya, postingan ini yang dipilih untuk cerita Nuna pertama. Ini pertanyaan kesekian kalinya yang buat Bunda panik... Mungkin ada anak-anak pembaca yang pernah tanya ini juga? Nuna : bunda, Allah itu di kepalanya pake peci warna apa? Bunda : haah??? Allah ga pake peci, nuun.. Nuna : ooh... pake kaen panjang yang diputer2 di kepala kayak ayah waktu itu yaa... Bunda : haah? Ngga jugaaa, nuun.. Nuna : trus Allah itu dirambutnya pake apaa?? Bunda : (mulai paniik...) duh nuun... bunda ga tau. Allah ga kayak kita, ga kayak manusia. Nuna : di kepalanya ga pake apa2? Bunda : duuh ... ada kepala ga yaa... Nuna : hah? Nadya : Allah itu cahaya bulet yang bisa mengabulkan semua permintaan kita.. Bunda : (melongo) bukaaan... Nadya : oh? Bunda : Allah itu ga seperti manusia yang punya kepala, badan begini... Nadya : trus... Bunda : kata Allah, semua yang gaib, gaib itu artinya yang ga keliatan. Allah ga keliatan kan? Nadya Nuna : iyaaa Bunda : semua yang gaib...

Salam kenal dari Nuna!

Image
Nuna lahir 5 tahun yang lalu. Seperti kakaknya, Nuna juga betaaah banget dalam perut Bunda. Mungkin di dalam sana hangat, empuk, banyak bantalnya. Apalagi supply makanan yang mengaliiir... tanpa jeda. Maklumlah, Bunda ini termasuk mamak-mamak pengunyah. Penyayang juga. Sayang kalo ga diabisin. Sebelas bulan lamanya Nuna dalam kandungan. Lama banget? Ngga jugaa... Karena rekor terlama masih dipegang kakak yang setahun dalam perut. Haha... Dokter ngomel tingkat dewa. Maksa untuk sesar secepatnya. Ketika hamil Nuna, pak dokternya sudah lebih tenang dan bisa nerima. Wkwkwk... Nuna lahir normal. Alhamdulillah. Kakak sesar karena besar. Ya iyalah. Setahun di dalam sana, pasti udah panjang juga dia. Belajar dari hamil kakak, Bunda seriiing banget ajak ngobrol Nuna. "Jangan besar di dalam ya, delu," gitu. Delu tuh dede lucu. Lahir 2,4 kg Nuna terlihat keciiil. Bunda ga berani mandiin sendiri. Mbok dari klinik bu bidan datang dua kali sehari untuk memandikan Nuna. Hingga us...

Bullying : Mudah disemai

Image
"Aku bodoh ... aku bodoh..." , teriak Andi sambil memukul kepalanya berkali-kali. Aku berhenti menulis di white board dan menghampirinya. Aku pegang kedua tangannya, genggam, dan Andi pun berhenti memukul kepalanya. "Kenapa?" Tanyaku. "Aku ini memang bodoh, mis," air matanya mengalir. Aku tahan kedua tangan yang kembali hendak memukul kepala. "Repeat after me! Aku pintar", sambil kutatap matanya. Perlahan gemetar yang kurasa dikedua tangannya mereda. Pelan dia ikuti kalimat itu. Kuhapus air matanya. Kuminta seorang muridku yang lain mengambil botol minum dan membukanya. "Minum ya?" Dijawab anggukan pelan. Lalu tumpahlah ceritanya. Buatku Andi tidak berbeda. Sama seperti 19 orang murid lain dalam kelas ini. Kadang dia lebih aktif dari teman-temannya yang lain, kadang juga malah lebih tenang. Jika aku menjelaskan di kelas, Andi akan sibuk berkeliling kelas. Sesekali ikut berdiri di sampingku. Ikut bicara kepada teman-teman...

#maslepasseragam

Image
Munculnya nama Agus Yudhoyono dalam kancah perebutan DKI 1 membuat banyak pihak terkejut. Tidak hanya kaum yang concern  banget dengan dunia perpulitikan (hadee...), para mahmud alias mamah-mamah muda pemuja Mas Agus (ahaay... biar akrab ya) pun ga kalah kagetnya. Jika kaum pulitik menganggap SBY melebarkan sayap, para mahmud punya pandangan lain. Apalagi kalo bukan soal tampilan Mas Agus kedepannya setelah pencalonan ini. TNI tidak diizinkan terjun dalam politik aktif. Konsekuensi dari pencalonan Mas Agus adalah pengunduran diri dari karir tentaranya itu. Jadi... misal ni yaa... Mas Agus tidak terpilih, kedepannya kita ini ga bisa lagi melihat beliau dalam balutan seragam loreng dan topi TNI nya itu. Kali ini kita belajar 'politik itu kejam' dalam arti sebenarnya. Haha.. Tapi marilah melihat dari sisi yang lain. Jika Allah izinkan Mas Agus memimpin Jakarta, apa ga lebih klepek-klepek tuh liat Gubernur yang teduh, santun, dan jelas ganteeeng... Semoga Allah gariskan ya...

Sampai Jumpa Tahun depan, GESS...

Red room yang membahas tema mengenai lingkungan aman untuk belajar dan bebas bullying adalah ruang yang pertama saya tuju di GESS kemarin. Buat kamu yang belum tau, GESS itu kepanjangan dari Global Educational Supplies and Solutions. Sesuai namanya, di dalam GESS    secara paralel dapat kita temui berbagai pameran teknologi pendidikan dan seminar. Diselenggarakan 14-16 September 2016, GESS ini lebih banyak dipromosikan lewat media sosial. Dan entah kenapa, walaupun gratis tis tis, pengunjung yang datang cenderung sedikit. Apa ada hubungannya dengan promosi yang lebih banyak lewat medsos, pelaksanaannya di hari kerja, atau mungkin alasan yang lain? Seminar paralel yang dilaksanakan bersamaan di 5 ruang mengangkat tema-tema yang menarik. Tercatat beberapa tema yang dibahas  yaitu Mencegah Kekerasan di Sekolah dengan Pendidikan yang Benar, Psikologi Persuasi, Digital Divide, Memahami Gambar Anak, Pelatihan Menulis bagu Pemula, dan masih banyak lagi . Para fasili...

Anda bilang saya sara? Yo ben!

Pemilihan Gubernur DKI di depan mata. Anies Baswedan dan Sandiago Uni adalah bakal calon terakhir yang mendaftar ke KPU malam tadi. Dan karena kemarin adalah batas waktu terakhir pendaftaran, maka dapat dipastikan tidak akan ada lagi bakal calon lainnya.Tercatat tiga pasangan calon yang mendaftar. Ahok-Djarot, Agus-Sylviana, dan Anies-Sandi. Pemegang KTP Jakarta mulai memicingkan mata untuk fokus siapa yang dipilihnya, sementara pemegang KTP daerah lainnya mulai makin sibuk berkomentar tentang siapa pemenangnya. Mengaitkan keyakinan bakal calon tetap jadi isu panas yang diangkat. Padahal, katanya, tidak ada hubungannya antara agama dan pekerjaan seseorang. Yo wes monggo yang berpikir begitu. Orang yang berpikir sebaliknya dianggap sara. Tidak sedikit dari kita yang berpikir bahwa semua ini hanya settingan saja. Sudah diatur. Jadi siapapun bakal calonnya, pemimpin yang terpilih akan tetap yang itu juga. Karena 2 tahun terakhir memang terasa sekali hidup dalam rezim yang menganda...

Kapanlah kita cari dukun!

Teman. Lima huruf yang mudah ditulis, tapi sulit dicari. Sebegitu banyak orang di sekeliling, tapi menemukan satu orang yang menertawakan hal yang sama tanpa perlu berkata-kata itu adalah anugrah. Banyak sekali orang yang berinteraksi dengan banyak komunitas. Membicarakan hal yang sama. Mencari jalan keluar suatu masalah bersama. Melakukan perjalanan jauh berhari-hari lamanya. Tapi, ketika teman seperjalanannya ini ditanya, frankly mereka ga tau apapun tentang dia. Tapi ada juga, yang hanya ngobrol lewat ketikan hape saja, ga pernah jumpa, lalu ketika bertemu, kayaknya seharian ngobrol masih aja ga terasa. Kita bisa berteman dengan siapa saja. Makan bareng, nonton bareng, ngerjain tugas bareng ... gampang-gampang aja. Menemukan orang yang kamu ga peduli muka kamu kayak apa jeleknya depan dia, dikatain tapi tetap terima-terima aja (malah mbales dengan lebih sadis lagi), ituu... yang susah. Orang yang kita kunjungi ketika lagi bokek berat, trus dengan entengnya tanya, "lo...

The Day 2

Semua urusan yang berkaitan dengan keberangkatan saya lancaaar banget. Ga ada satu pun hal yang menghambat. Pagi di hari keberangkatan, Bapak bicara panjang dengan dia, si anak dari saudara jauh yang kepingin besanan. "Anter sampe dalem asrama pondok gede. Tungguin sampe semuanya beres. Gw ga bisa nganterin," pesan Babeh padanya. Yup! Kesehatan bapak semakin menurun. Pagi itu, sampai turun tangga rumah pun bapak ga sanggup. Setelah saya selesai sholat sunnah 2 rakaat, Bapak cuma peluk saya, dan minta maaf. Terus kita nangis sesegukan berdua. Yang pergi saya. Yang mungkin ga balik lagi itu saya. Tapi bapak yang ngucap maaf. Di hari-hari terakhir menjelang keberangkatan, kami memang bicara panjang. Soal rahasia-rahasianya. Soal sakit hatinya. Soal piutang orang padanya. Soal semua keikhlasannya. Dan betapa bapak mau saya siap untuk semuanya. Kalimat-kalimat penuh penekanan yang diawali dengan "Jadi ... kalo nanti ... begini, lu harus ngarti. Lu harus ..."....

The Day 1

"Pergi haji gih," Bapak bilang di satu hari. Hari-hari galau ketika saya batal sidang skripsi karena dosen pendamping II ga bersedia menandatangani skripsi yang sudah saya selesaikan. Kenapaaa? Sederhana saja. Beliau minta penelitian yang kualitatif itu dirubah menjadi kuantitatif. Dan saya ga mau! Entah kemana saja Pak Dosen ini. Tanda tangan 4 bab sebelumnya lantjar djaya... ga pake rempong. Ga pake revisi. Dan dipastikan ga pake baca juga. Beliau tersadar di bab ke-5. Dan di sinilah saya. Pulang ke Pulo Gebang setelah memastikan semua dosen saya yang lain tidak bisa menolong. Melihat namamu dicoret dari peserta sidang skripsi yang sudah terjadwal itu pedih, jenderal! Tapi lebih pedih lagi melihat pandangan bapakmu dalam tundukan dalam ketika kamu mencoba menjelaskan belum bisa 'selesai'. Malu, marah, sedih dan murka itu bisa diaduk jadi satu. Maafin tia, Pak. Bapak ga marah. Cuma diam. Dan lidah saya kelu. Tenggorokan serasa tercekik. Mata saya membuat...

Lonely 😔

Perasaan kesepian itu berbahaya. Dia kadang begitu sunyi, sampai tak ada yg bisa mengenali walau dekat sekali. Dia seringkali bersembunyi dibalik senyum simpul hingga gelak tawa yg geli. Dia bahkan tak izinkan air mata meleleh di pipi, karena sepi itu tak ingin terdeteksi. Hingga sampai masanya ditemukan pundak tempatnya bersandar. Mata teduh tempatnya menuang. Obrolan santai tanpa menuntut keingintahuan. Sepi itu bisa terlihat. Tapi tetap senyap. Buat saya, Awkarin itu lonely. Lelah membuktikan diri bisa dpt nilai tertinggi. Maka, ancur boleh bego jangan itu jadi jati diri. Ini bukan pembenaran. Mungkin hanya rasa kasihan. Semoga Allah izinkan dia isi kekosongan hatinya dg jalan yg lebih elegan. #Postinganpenting Halah

Apakah mencitra itu dosa?

Beberapa orang hatinya sedemikian terasah. Dia akan dengan mudahnya menemukan kejadian-kejadian yang dirasa tidak semestinya. Seperti setiap kejadian itu ada baunya. Beberapa orang juga sedemikian pintar menutupi hasratnya. Terlihat santai, woles, nothing to loose, padahal gejolak di dalam hatinya sama meletupnya. Sebagian lagi memilih untuk berpijar tak kenal waktu. Meledak-ledak seperti kilat. Spontan untuk melemparkan hasrat. Sehingga letupan tampak berpijar di matanya, memerah di pipinya, dan berderap-derap di langkah kakinya. Manusia itu makhluk paling unik. Tidak akan tercipta sama, meski ada 5 milyar di dunia ini yang serupa. Menciptakan citra itu biasa. Sudah bukan makanan langka. Bukan hanya di layar kaca kita melihatnya, bahkan dalam pantulan kaca pun bisa. Apakah mencitra itu dosa? Bukan juga. Menanam citra itu keterampilan yang bisa diasah. Bisa direncana. Hingga menjadi mahir, tanpa harus tersingkir. Keterampilan yang dimiliki semua? Bukan juga. Sebagian m...

Berhentilah Mengira-ngira!

Tidak ada yang bebas nilai,,,, ya, saya paham. Tapi lantas membiarkan diri terjebak dlm kekhawatiran berlebihan atas nilai yg seringkali sumir juga bukan tindakan bijak. Semua yang kita lihat dari seseorang atau malah 'sesuatu' saat ini, adalah hasil goresan-goresan kasar di masa lalu. Parut-parut itu menimbulkan bekas yang khas, yang membuatnya berbeda. Bahkan kayu pun tak akan terlihat seratnya tanpa amplas yg kasar dan lama. Begitu pun manusia. Pemikiran dan olah katanya, bahkan segaris tipis warna di kelopak matanya adalah aroma perjalanan yang tertinggal. Dengannya dia menjadi berbeda. Karenanya, dia bisa kau puja. Alih-alih menjerumuskan diri khawatir berlebihan dalam aroma yang dibawanya, mengapa tidak anda mulai berpikir untuk menorehkan aroma anda padanya? Hidup ini cuma sekedar cara pandang, toh? Pilihlah tempat anda. Dan berhentilah mengira-ngira.

Pay attention to your 'golf balls' 😎

A professor stood before his philosophy class and had some items in front of him. When the class began, he wordlessly picked up a very large and empty mayonnaise jar and proceeded to fill it with golf balls. He then asked the students if the jar was full. They agreed that it was. The professor then picked up a box of pebbles and poured them into the jar. He shook the jar lightly. The pebbles roll ed into the open areas between the golf balls. He then asked the students again if the jar was full. They agreed it was. The professor next picked up a box of sand and poured it into the jar. Of course, the sand filled up everything else. He asked once more if the jar was full.. The students responded with a unanimous ‘yes.’ The professor then produced two Beers from under the table and poured the entire contents into the jar effectively filling the empty space between the sand.The students laughed.. ‘Now,’ said the professor as the laughter subsided, ‘I want you to recognize that thi...

Antara kopi, bajigur dan air mineral

Life is choices. Haha... klise banget ya. Ungkapan klasik ini masih pas banget kok di era digital kayak sekarang. Era dimana semuanya bergerak cepaat banget. Saking cepetnya, mau paket berapa puluh ribu seharipun tetep aja bela-belain dibeli. Beeuh! Eksis itu mihil, cuy. Kecepatan itu membuat semua hal terseret-seret untuk ikut cepat. Seringkali karena keadaan sekitar memaksa harus begitu, kadang juga karena memang kita sendiri yang punya mau. Tapi boleh banget kok untuk tidak bergeming dan memilih untuk kalem. Ga semua orang suka dengan kecepatan. Sebagian dari kita malah lebih menikmati sruputan-sruputan pelan, dibiarkan menari dalam rongga lalu ditelan. Ga semua yang cepat itu juga asik. Kebayang kalo nyruput kopi panas sekali tenggak. Phyuuhh.... membara dalam arti sebenarnya. Haha.. Lantas gimana kalo yang ga suka kopi panas? Boleh aja kan minum bajigur adem dengan cepat? Ya seperti nyruput kopi pelan-pelan itu sah-sah aja, nenggak bajigur adem juga syahduu... rapop...

Guru spiritual : stay alert, please!

Guru spiritual. Bukan kali pertama sebutan ini marak di media. Semua tentu masih ingat kasus Adi Bing Slamet dengan Subur, guru spiritual yang kemudisn jadi musuh bebuyutan. Saat itu penikmat tontonan selebriti (halaaah...ribet amat istilahnya.  Gosip ajalah!), terkaget-kaget dengdn sosok Subur yang beristri banyak dengan penampilan serupa. Padahal Subur ini jauh dari kata muda. Sekarang Gatot (ogah banget manggil Aa) jauh lebih mengerikan perilakunya. Padahal julukan yang selama ini melekat sama, guru spiritual. Kalo Subur dengan tampilan kedewasaannya (mbah-mbah maksudnya), Gatot ini tampilannya lebih meyakinkan. Baju putih dan udeng-udeng yang melilit selalu di kepala. Atau kadangkala pakai jas juga. Jauuuh deh dari kesan orang yang penuh angkara murka dan berbahaya. Tampilan baik subur atau gatot, keduanya terlihat adem. Seperti orang yang ga sanggup hati menepuk lalat sampe mati (halah. . Emang susah nepuk lalat siih). Tampilan yang penuh kasih dan wibawa ini bisa di...

Menabung Rindu

Tepat setelah semua rukun haji saya selesai, sepucuk surat dari mamanda Aminudin Yakub tiba. "Temui abang di Masjidil Harom. Depan Rolex ya." Sungguh berjalan kaki terberat sepanjang hidup saya. Padahal Misfalah ke Masjidil Harom ga sampai 2 km. Hati saya ramai. Mimpi saya selama di Harramain ini adalah mimpi2 yang saya ga impikan, bahkan di negeri sendiri. Gigi depan yang copot, Ummi datang dengan air mata, dan pandangan lelaki gagahku dalam mimpi itu. "Fatiyah, bapak udah meninggal. Sabar ... badalin umroh ya. Abang tau tia paham. Boleh nangis, tapi jangan meratap. Doain bapak ya. Keluarga sepakat bilangin tia setelah haji selesai. Karena ini wasiat bapak." Dan Robb, apalagi hadiah yang terindah, selain menangis di dalam rumahMu dan mengirimkan lantunan do'aku untuknya. Till we meet again, old man. Till we meet again. Bulan haji adalah bulan perpisahan ya, Pak. #menabungrindu

Lets fight!

Seperti jutaan orang lainnya, saya mengagumi Pak Mario Teguh. Dan beberapa motivator lain. Buat saya keberadaan motivator yang selalu menyediakan 'kompor' untuk dibagikan kepada banyak orang adalah pekerjaan yang warbyasssaaah... Menyemangati diri sendiri saja sudah cukup sulit, apalagi menyemangati orang lain. Para motivator ini pun sangat-sangat terlatih untuk melihat kebaikan dari hal yang paling buruk, paling kotor, paling bengis sekalipun. Dan mereka lantas bisa memutarbalikkan semuanya. Menghalau galau, membarakan arang, mengibarkan panji keberanian, hingga membuat gelap gulita seketika fajar. Haha... iya, lebaaay... banget. Sebegitu mulianya pekerjaan motivator untuk orang-orang yang sedang burn out. Blank. Gelap. Dan meyakinkan orang lain bahwa mereka itu baik-baik saja. Dunia ga berhenti berputar seperti yang mereka kira, pasti bukan perkara mudah. Dan harus diakui, Pak Mario ini berhasil. Kenapa? Karena gonjang-ganjing Kiswinar ini membuat kita, eh saya ...

Pendidikan berkarakter

Tulisan ini adalah catatan yang disarikan dari Education Sharing Network di Sampoerna University periode awal tahun 2016 bertemakan Pendidikan berkarakter. Pengisi materi adalah Bapak Agus Sampurno, seorang fasilitator pendidikan di Sampoerna Foundation. Sila dibaca … Pembelajaran berkarakter pasti bermakna dan berguna bagi siswa. Mulai dibahas tahun 2010-an ketika tawuran marak terjadi.   Semua pihak merasa gagal. Kenapa tawuran marak? Karena sekolah hanya jadi lembaga pengejar nilai yang dingin dan kejam pada siswanya. Kita kenal 18 karakter milik dinas. Semuanya bagus. Hanya saja pendidikan kita miskin strategi. Jadinya mengajarkan karakter seperti mengajarkan pengetahuan lain. Sekolah yg berkomitmen pada karakter melakukan : 1.       Display karakter di seluruh penjuru sekolah 2.      Guru dan siswa dinilai dengan karakter yang sama 3.      Orang tua diberikan penjelasan tentang kara...

Sharing economy vs predatory pricing

Kejadian beberapa hari lalu soal sopir taksi reguler yg protes karena merasa terancam dengan keberadaan taksi online mau ga mau memaksa mata kita untuk terbuka. Kita jadi lebih punya alasan untuk cari tau soal si ijo dan si biru ini. Perusahaan si biru mengambil untung terlalu banyak, sebutlah begitu. Untung tahun lalu itu sebesar 800 m. Miliar bukan ember. Itu fantastis sangat, lho. Saya malah mikir, supir2nya ikut merasakan nikmat keuntungan itu ga ya.. Si ijo, yang mewakili transportasi teranyar yg up to date dan dlm jangkauan jempol, juga tidak kalah hebat. Siapa yang ga kenal gojek? Kalo ga kenal, lo ga kekinian banget. Pengalaman penumpang naik gojek dengan pengemudi yg hapal banget jalan ibukota, tersebar dan ampar-amparan di dunia maya. Pengalaman supir yg dapet order aneh2 juga ada. Pesona gojek ini luarbiasa, lho. Karna cerita soal gojek di medsos yg aduhai, ketika akhirnya saya naik gojek pertama kali, udah timbul aja tuh hawa2 pengen menginterogasi si...

Arrrrgghhhh

Kenapa sepertinya sulit sekali melangkahkan kaki menuju pintu perubahan?  Itu yang seringkali saya alami. Perubahan itu dunia baru. Asing. Sulitnya berubah tidak lantas membuat kita bersyukur pada dunia kitasekarang. Walaupun mengeluh menurut saya masih lebih baik. Seringkali malah kita terjebak untuk 'menyamankan' diri, lalu apatis dan membiarkan semuanya berjalan auto pilot. And then just wait where the wind will flew you. Stagnan aja. Ga berpikir. Terserah aja. Gitu. Jika hal ini dialami oleh seorang yang berprofesi guru, saya rasa ini jadi kerugian besar. Untuk dirinya, sekolah tempatnya mengabdi, dan terlebih lagi muridnya. Jika kualitas guru dicerminkan dari apa yang dia bicarakan, guru yang auto pilot ini tidak akan membicarakan apapun yang berhubungan dengan pendidikn. Lalu mau dibawa kemana murid-muridnya?

Insecure

Self esteem atau harga diri adalah penghargaan pada diri kita sendiri. Memahami bahwa it is ok to have mistakes. Karena manusia ga ada sempurnanya. Emang tempatnya salah dan nista. Halaaah…. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan yang sudah kita buat. Tidak ingin mengulanginya lagi dan pasti belajar mengenali rambu-rambu yang ada supaya lebih aware. Self esteem ini wajib kudu harus dipupuk dan dijaga sangat. Kenapa? Karena ketika kita tidak memilikinya, kita akan menilai rendah diri kita sendiri. Kita jadi merasa kecil dan rendah diri dihadapan orang lain. Menjadi tidak percaya diri adalah salah satu akibatnya. Keadaan orang dengan self esteem yang rendah ini seringkali disebut insecure. Rasa tidak nyaman pada diri sendiri. Menilai salah semuanya. Merasa semuanya kurang. Dan orang insecure ini tidak akan terima semua ketidaksempurnaan itu. Sayangnya, cara dia mengahadapi ketidaksempurnaan ini lebih gaje lagi. Untuk orang yang insecur...

Berubah itu nyesek!

Perubahan itu menyakitkan. Kalo ga sakit banget, paling ngga, nyesek gitu deh. Banyak asbab terjadinya perubahan. Perubahan terjadi karena memang pikiran kita terbuka untuk itu. Kita berpikir kita harus lebih baik, dan karenanya berpikir tentang apa yang sebelumnya tidak ada menjadi penting. Atau perubahan terjadi karena sudah ada hati yang tersakiti. Ceileeh… Bisa juga karena keduanya. Siapa yang tidak kenal Nokia, perusahaan seluler yang sedemikian ajegnya. Paling tidak satu decade lalu, ketika seseorang ingin memiliki handphone, pasti merk ini yang dipilihnya. Tidak ada yang meragukan fungsi yang ditawarkannya. Tapi lantas tawaran mutu ini tidak lagi cukup. Tampilan yang elegan dan merk yang menjual perlahan karam dengan munculnya berbagai merk telepon seluler lain. Apakah Nokia sebegitu buruknya? Menurut saya bukan itu. Perubahan yang dilakukannya terlambat. Nokia yang dimotori orang-orang ‘tua’ di Jepang sana terlambat mengikuti perkembangan permintaan pen...